Buku ini menceritakan perjalan kelam umat manusia melalui berbagai konflik bersenjata yang mengubah tatanan dunia. Buku ini mengupas bagaimana peperangan meruntuhkan kekaisaran besar dan melahirkan peradaban modern.
Jawa Tempo Dulu: Sejumput Catatan Sejarah adalah memoar perjalanan Henry Scott Boys yang merekam kekaguman dan analisis kritis terhadap bentang alam, sosial, dan sistem pemerintahan kolonial di Jawa pada tahun 1889. Buku ini menyajikan pandangan mendalam dari perspektif pejabat kolonial Inggris, menyoroti keindahan alam serta dinamika kehidupan sosial-politik masyarakat pribumi.
Buku ini tidak hanya sekedar menjelaskan kronologi perang Padri, melainkan juga perkembangan Islam dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Minangkabau sebelum dan sesudah perang.
Buku ini merangkum ekspedisi ilmiah selama delapan tahun di Nusantara yang menjadi dasar teori evolusi dan Garis Wallace. Isi buku mencakup dokumentasi keanekaragaman hayati, pengamatan geografi fauna, serta kajian antropologi budaya masyarakat lokal pada abad ke-19.
Buku ini merupakan catatan perjalanan abad ke-19 yang mendokumentasikan kekayaan alam dan budaya Jawa untuk masyarakat Barat. Buku ini mengulas detail geografi vulkanik, keramahan sosial, situs sejarah, dan seni tradisional yang membentuk identitas Pulau Jawa. Sebagai dokumen historis, karya ini menyajikan potret komprehensif keindahan dan peradaban Jawa pada zamannya.
Dalam buku ini, pembaca akan diajak untuk menyusuri peristiwa-peristiwa oenting yang membrntuk perjalanan Kediri, dari kelahiran, masa keemasan, hingga kehancurannya. Jejak peninggalan Kediri masih dapat kita saksikan hingga kini, tidak hanya dalam prasasti dan candi, tetapi juga dalam narasi yang diwariskan kepada generasi berikutnya
Buku ini ditutup dengan refleksi dari K.H. Husein Muhammad mengenai persamaan serta perbedaan karakter antara Gus Dur, Gus Mus, dan dirinya sendiri. Esensi keseluruhan dari buku ini adalah mengajarkan masyarakat untuk senantiasa menghadapi ruwetnya zaman dengan hati yang lapang, toleran, dan "enteng-enteng saja" sebagaimana cara Gus Dur dan Gus Mus menjalani hidup mereka.
Buku ini menyakikan uaraian secara khusus beberapa konteks yang berpengaruh besar dalam perjalanan kehidupan pangeran sambernyawa. antara lain perjanjian giyanti, yang membagi kesuktanan mataram menjadi dua kekuatanL perjanjian salatiga, yang menjadi dasar pendirian kadipaten Mangkunegara. Buku ini meliputi sejarah berdirinya kesultanan mataram serta suksesi para raja.
Buku in hadir bukan sekedar sebagai rangkaian catatan biografi tentangnya, melainkan refleksi atas semangat seorang pemimpin yang berani memilih jalan berbeda demi kebenaran dan martabat bangsanya.